surip ipah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

TTS Pacu Siswa Aktif dan Berbudi

Keaktifan siswa sangat mewarnai suasana kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru dan siswa. Suasana kegiatan belajar mengajar akan “hidup” ketika terjadi interaksi timbal balik antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa. Sebaliknya, Suasana kegiatan belajar mengajar akan “mati” ketika siswanya hanya pasif saja. Ketidakaktifan siswa itu mungkin disebabkan mereka malu mengutarakan pendapatnya karena takut salah, enggan menjawab walaupun sebenarnya bisa, atau memang bosan sehingga walau tidak bisa mereka memilih diam saja, malas untuk bertanya.

Setiap guru pasti berupaya melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan. Berbagai metode, pendekatan, sumber, media dipilih untuk menciptakan itu. Harapannya, semua siswa bisa berperan aktif dalam pembelajaran. Siswa berani menjawab, tidak takut berpendapat dan mau bertanya ketika ada hal yang belum diketahuinya. Untuk memacu keaktifan siswa, bisa dilakukan dengan cara pemberian turus titik setrip.

Pemberian turus titik setrip. merupakan cara yang dapat memacu keaktifan siswa sehingga menciptakan suasana kelas menjadi hidup. Hal tersebut disebabkan setiap siswa yang dapat menjawab atau berani mengutarakan pendapatnya dengan benar siswa akan mendapatkan satu tanda turus, dan jika belum benar siswa mendapat tanda titik, yang berarti penghargaan atas keberaniannya. Sedangkan untuk siswa yang melanggar atau melakukan kesalahan, misalnya : tidak mengerjakan PR, berpakaian tidak sesuai aturan, berbuat yang tidak sopan, berbicara kasar atau saru dalam istilah Jawanya, siswa mendapat tanda setrip. Satu tanda setrip ini bisa dihapus dengan satu tanda turus.

Dengan tanda turus, titik dan setrip ini siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Siswa berlomba ingin mendapat tanda setrip yang sebanyak-banyaknya. Siswa berebut ingin menjawab dan mengutarakan pendapatnya karena jika benar akan mendapat satu turus, tidak takut salah karena salahpun tetap mendapat tanda titik sebagai catatan atas keberaniannya. Demikian pula bagi siswa yang sudah mendapat tanda setrip, berusaha menjawab yang benar agar bisa menghapus tanda turus. Pada akhir pembelajaran guru mengulang keseluruhan pertanyaan, bagi yang menjawab benar mendapat satu turus, jika salah mendapat satu setrip karena tidak memperhatikan. Jadi, dengan tanda turus, titik lan setrip ini siswa terpacu untuk lebih aktif.

Tujuan penggunaan tanda turus, titik dan setrip ini menjadikan siswa lebih aktif dalam pembelajaran, keadaan kelas bisa lebih kondusif. Pemahaman siswa meningkat dengan tetap berbudi, tidak berkata yang kotor, dan tidak berbuat yang tidak sopan. Karena setiap perbuatan yang tidak terpuji akan mendapat satu setrip.

Penggunaan cara pemberian hadiah turus dan titik serta sanksi berupa setrip itu, dimulai guru menyampaikan teknik penilaian mata pelajaran Bahasa Jawa setelah itu kompetensi yang akan dicapai. Penilaian utama dalam Bahasa Jawa yaitu budi pekerti, yang diamati dari : 1). Cara berpakaian; 2). Cara berbicara; 3). Cara bersikap. Setelah itu guru menjelaskan indicator pencapaian kompetensi tersebut serta materi yang sesuai dengan kompetensi. Kemudian guru menjelaskan pemberian hadiah turus dan titik serta sanksi berupa setrip dan membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Untuk mengetahui pemahaman siswa, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai indikator. Siswa yang dapat menjawab dengan benar mendapat satu tanda turus, jika belum benar siswa mendapat tanda titik, dan yang melanggar atau melakukan kesalahan, mendapat tanda setrip. Siswa yang berkompetensi tinggi akan mendapat banyak tanda turus.

Kelebihan penggunaan tanda turus, titik dan setrip yaitu suasana kelas lebih hidup dan anak tetap berbudi karena siswa selalu berhati-berhati dalam berbicara, dan bersikap. Ada hadiah dan sanksi bagi siswa. Hanya saja ada kekurangannya, bagi siswa yang berkompetensi rendah kurang mendapat peluang untuk menjawab, Selain itu, kelas menjadi lebih ramai karena berebut ingin menjawab. Untuk menanggulangi itu, pada akhir pembelajaran guru memberikan pertanyaan yang sama kepada seluruh siswa secara acak, utamanya yang belum mendapat tanda turus. Jika menjawab benar mendapat turus, apabila salah mendapat setrip. Jadi akhirnya semua mendapat kesempatan menjawab. Kesimpulan menggunakan tanda tersebut, diyakini suasana pembelajaran bisa lebih hidup, pemahaman siswa meningkat dengan tetap berbudi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali